St.Vincent SF

St. Vincent Tavern and Wine Merchant

Di Reboot Lalu Dijual Kisah Terakhir St Vincent Tavern and Wine Merchant

Di Reboot Lalu Dijual Kisah Terakhir St Vincent Tavern and Wine Merchant – Dapur yang pernah dikuasai oleh Bill Niles ini, pernah menghasilkan brunch khusus pada hari Sabtu dengan spritze Aperol, micheladas, dan menu roti buatan sendiri dengan segala macam selai dan spread. Telur mentega ala harissa, puding roti lavender, dan “daging domba untuk sarapan” adalah beberapa pilihan menu dari si tua Bill. Dan di Wine Merchant, anda bisa bawa keluar sebotol rosé yang bagus, sambil berjemur menikmati anggur dari St Vincent itu, di Taman rumahan Anda sendiri.

Sudah waktunya warga San Fransisco untuk memperbarui daftar restoran mereka sendiri, lalu hapus nama Saint Vincent karena mereka sudah tidak ada lagi. Jika ada yang bertanya: “Bisakah Anda merekomendasikan restoran dengan anggur enak di SF?” Maka jawabannya, “Bisa tapi restorannya sudah tutup” kenangan warga SF terhadap suatu restoran adalah sepanjang kenangan mereka merasakan bagian terindah dari hidupnya sendiri. Di meja yang mereka pesan, pernah menjadi saksi betapa mereka punya kisah cinta romantis, pembicaraan bisnis yang menentukan, dan tidak ada yang membuang waktu, karena orang-orang menikmati sajian sommelier dan makanan yang enak.

Orang boleh saja pergi ke Resto Four Barrel Coffee atau Resto Humphry Slocombe (toh keduanya masih layak dikunjungi). Juga silahkan datang Izakaya Yuzuki, pesan mochi dan sake, berenti sejenak lalu memilah-milah daftar koki untuk makanan lebih serius, kamu bisa buka halaman yang menawarkan resto Piccino, resto favorit ala Italia. Tapi, halaman yang sajikan St Vincent, tempat impian pecinta anggur dengan sajian khas cita rasa San Fransisco sudah ditutup.

Pemilik St Vincent, David Lynch mengatakan dirinya “sudah terlalu lama di sini [SF].”

Ternyata pembangunan ulang St. Vincent oleh David Lynch baru-baru ini lebih dari sekadar mengubah citra – dan upaya terakhir untuk menyelamatkan kedai anggur yang baru berusia tiga setengah tahun. “Aku sudah terlalu lama bertahan di sini,” kata Lynch pada media Eater. “Aku tidak bisa memanajemen tempat ini secara finansial. Tidak pernah, serius.” Untuk itulah dia memasang patok dijual, walau selama belum terjual waktu itu St. Vincent akan beroperasi seperti biasa sampai kesepakatan tercapai.

Menurut Lynch ada beberapa ketertarikan pada propertinya, tapi bukan karena itu salah satu faktor yang menyebabkan kejatuhannya. “Saya telah melakukan banyak kajian kebangkrutan akhir-akhir ini. Saya rasa ini hanya pengalaman krisis identitas. Pelanggan tidak benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan pada tempat ini,” renungnya. “Apakah ini tempat jual anggur? Apakah ini restoran? Kupikir pesan nya sudah cukup jelas, tapi kurasa itulah penjelasan terbaik yang bisa didapat.”

St. Vincent dibuka pada bulan Mei 2013 dab segera menerima pujian, mendapatkan ulasan positif dari ahli resto Bauer, ditempatkan pada daftar 100 teratas, tetapi beberapa hari terakhir ini resto terlihat lebih kosong. Lynch, yang juga mantan sommelier Quince / Cotogna, sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya.

“Saya ingin berpikir mungkin ada peluang untuk St Vincent di tempat lain. Saya sudah melakukan beberapa diskusi dengan orang-orang tepat tentang hal ini tetapi belum ada yang konkret,” katanya. “Saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak yakin apakah ini bisa menjadi sesuatu yang lancar, atau saya kerjakan konsep yang lain.” Untuk saat ini hingga terjual, St. Vincent akan tetap buka setiap hari sebagai ritel/toko anggur, dan bar dengan sajian makanan ringan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!